semua berita online


SEMUA BERITA ONLINE: KAMI MEYEDIAKAN BERITA-BERITA TERUPDATE SEPERTI KRIMINAL-POLITIK-OLAHRAGA DAN SOSIAL MEDIA DI TAHUN INI

Pemerintah Diminta Waspadai Defisit Perdagangan

Pemerintah Diminta Waspadai Defisit Perdagangan

thisberita - Center of Reform on Economics (CORE) meminta pemerintah untuk mewaspadai defisit dalam neraca perdagangan Indonesia. Pasalnya, total defisit perdagangan dalam tiga bulan terakhir tercatat USD1,1 Miliar.

Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal mengatakan defisit perdagangan selama tiga bulan berturut-turut pertama kalinya terjadi sejak 2014. "CORE Indonesia memandang kondisi ini patut mendapatkan perhatian serius pemerintah," kata Faisal, dalam keterangan tertulisnya, yang diterima Medcom.id, di Jakarta, Jumat, 16 Maret 2018.

Faisal membeberkan net ekspor yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi selama 2017 dengan pertumbuhan 21 persen, berpotensi memberikan sumbangan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2018. Artinya, upaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun ini menjadi semakin sulit.

Selanjutnya, defisit perdagangan akan semakin mendorong pelebaran defisit transaksi berjalan yang menjadi salah satu faktor pendorong pelemahan nilai tukar rupiah, selain faktor eksternal seperti penaikan suku bunga acuan the Fed di AS.

Di sisi lain, belum ada peningkatan kinerja industri manufaktur secara berarti, terutama industri yang berorientasi ekspor. Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas. Padahal negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam, ekspor manufaktur yang kuat akan dapat meredam terjadinya defisit perdaganga.

"Khususnya pada saat ekspor komoditas andalan seperti sawit cenderung melemah, dan harga minyak dunia terkerek naik. Sebagai perbandingan, kontribusi ekspor manufaktur hanya 47 persen dari total ekspor Indonesia, sementara kontribusi ekspor manufaktur terhadap total ekspor Vietnam dan Thailand saat ini sudah mencapai 78 persen," tuturnya.

Sementara itu, faktor pendorong defisit perdagangan dipercaya berasal dari pelebaran defisit migas dan penyempitan surplus nonmigas. Pelebaran defisit migas terjadi akibat peningkatan impor migas yang didorong oleh kenaikan harga minyak dunia. Akibatnya, defisit migas yang pada Februari 2016 hanya USD10 juta meningkat menjadi USD870 juta pada Februari 2018, atau meningkat 8.600 persen.

"Pelebaran defisit migas sebenarnya sudah terjadi sejak Februari 2016, sejalan dengan harga minyak yang mulai bergerak naik dari USD 30 per barel pada Januari 2016 menjadi USD64 per barel pada Februari 2018, bahkan sempat menyentuh di atas USD70 per barel pada Januari lalu," tambahnya.

Meskipun perdagangan Indonesia berpotensi surplus beberapa bulan ke depan, kata Faisal, struktur neraca perdagangan masih sangat rentan mengalami defisit karena masih lemahnya peran ekspor manufaktur.

Ekspor manufaktur yang sejak Januari 2016 mengalami tren kenaikan, dalam tiga bulan terakhir mengalami kontraksi sebesar 11 persen, dari USD11,5 miliar (November 2017) menjadi USD10,3 miliar (Februari 2018).

Ekspor tambang yang mengalami peningkatan sejak paruh kedua 2016, dalam dua bulan terakhir ikut terkoreksi 15,3 persen dari USD2,7 miliar (Desember 2017) menjadi USD2,3 miliar (Februari 2018).

"Apalagi, defisit migas masih cenderung melebar karena dorongan kenaikan harga minyak dan peningkatan volume impor migas antisipasi lebaran. Sementara ekspor komoditas sawit yang menjadi andalan utama Indonesia menghadapi berbagai ancaman proteksi di berbagai negara, khususnya Eropa, Amerika, bahkan negara importir terbesar India," pungkas dia.